Monday, September 20, 2010

Poster Diagram Warna Urine

Sejak sticker/poster kecil di balik pintu kamar mandi terpasang, saya selalu ingat untuk minum air. Maklum, saya termasuk golongan orang yang malas minum air putih a.k.a air mineral (seharusnya air bening ya? kalo putih sama dengan susu rasa vanila?)

Tanpa melihat badge dari sebuah merk air mineral kemasan tersebut, poster itu sangat membantu saya belajar hidup sehat. Jadi saat *maaf* buang air kecil (saya singkat BAK) saya langsung membandingkannya. Sesuai pada gambar tersebut, bila warna urine kuning tua maka saya kekurangan cairan. Namun manakala warna kuning-nya cenderung putih, maka kondisi badan saya terdehidrasi dengan baik. Mungkin sebaiknya di setiap kamar mandi, rest-room, toilet di lokasi manapun memasang poster semacam ini :)

Apabila ingin mendapatkan informasi lebih lengkap tentang urine, silahkan kunjungi wikipedia. Saya menemukan beberapa diagram yang semacamnya di google-image dengan memasukkan kata kunci "urine color chart". Selamat minum air putih/mineral dan correct me if i am wrong (cmiiw).


Tuesday, August 31, 2010

Jangan Kena Tilang

Dahulu kala, saat saya pertama kali masuk Jakarta, banyak cerita tentang 'kena tilang'. Waktu itu saya kelas 2 SMA, siang hari sekitar jam 11, saya naik motor berboncengan dengan teman dari Cawang menuju sudirman. Saya arahkan motor ke arah grogol, melewati Komdak, saat di putaran semanggi, saya belok ke kiri dan turun ke jalan Jendral Sudirman, dengan percaya diri saya tetap memacu motor. Saat di ujung turunan seorang pak polisi menghadang motor saya dan meminta saya untuk menepikan motor. Saat itu saya takut sekali dan dengan terbata-bata, helm masih saya pakai, saya menjawab sapaan pak polisi tersebut "Selamat Siang Pak...". Dari situ tau lah, apa yang terjadi. Pak Polisi menanyakan kesalahan saya, lalu apapun jawabannya, dia menjelaskan kesalahan saya dan selanjutnya memeriksa surat-surat kendaraan dan SIM. Seperti biasa juga (pernah kena tilang?) pak Polisi berjalan ke tempat yang 'aman' sambil dia meminta saya mengikutinya. Alih-alih saya bingung, ternyata beliau berikan dua opsi, mau ditilang atau diselesaikan ditempat? karena tak mau repot dan sepertinya beliau juga hepi-hepi aja, saya tanya caranya. Beliau bilang "masak nggk tau sih?". Sayapun kaget dan menanyakan ke teman saya. Teman sayalah yang memberitahu bahwa saya harus memberikan sejumlah uang kepadanya. Wow gitu tho? Buka dompet hanya ada 2 lembaran lima ribuan, maka saya berikan satu lembar kepadanya dan saya tempatkan dibalik STNK motor yang tadi telah diserahkannya kepada saya. Huh! apes!

Tilang yang saya alami lainnya adalah saat mengendarai mobil dan memutar di bundaran HI saat saya mengantarkan parcel tahun baru. Karena telah tahu caranya, maka sayapun selesaikan ditempat. Beberapa kali di tahun 1996, saya juga pernah kena tilang saat di jalan Casablanca ada 'Operasi Patuh' gara-gara kaca spion saya hanya satu. waktu itu saya bertekad, tidak akan mau kena tilang lagi. caranya dengan melengkapi semua fasilitas kendaraan dan berkendaraan sesuai peraturan lalu lintas. Makanya saat di tahun-tahun belakangan ini, ada polisi yang mencoba 'menjebak' saya, tidak berhasil. Karena saya tidak kalah gertak, sebelum dia memberitahu salah saya, maka saya tanyakan lebih dulu kepadanya.

Waktu itu saya menuju grogol setelah melewati Slipi saat mulai ke kanan naik melewati jembatan tomang. Pak Polisi itu bilang bahwa dia sudah memberikan tanda agar masuk ke jalur kanan. Saya bilang balik bahwa saya tidak melihat bapak dari jauh, karena saya sedang konsentrasi dengan sebuah truk di samping kanan saya yang mencoba kekiri tapi ada di jalur kanan. lalu saya tanyakan mengapa dia tidak menilang truk-nya saja? bukankah truk tersebut yang salah jalur? Dari argumentasi tersebut, usaha dia untuk minta SIM dan STNK tidak dilanjutkan. Alhasil, saya dibiarkan pergi begitu saja.

Saya juga pernah menggagalkan usaha pak Polisi menilang saya, saat saya dari Grand Indonesia ingin balik arah ke Semanggi dan mencoba berputar di bundaran HI. Alasan saya juga tidak jauh berbeda dengan cerita saya sebelumnya. Sambil memasang muka jengkel, saya bertanya, "Mengapa hanya saya yang diberhentikan? Mengapa bukan Mercedez-Bens atau volvo itu? *Maklum saya mengendarai mobil jepang yang 'standar'* Pak Polisi tersebut akhirnya berkilah dengan gaya diplomasi yang cukup baik, "Tadi Bapak tidak boleh langsung ke jalur tengah dari jalur kiri. Karena membahayakan mobil yang dari kanan. Sekedar mengingatkan saja pak, hati-hati di jalan ya pak..." sambil tampang muka ramah.

Download tabel tilang disini, mungkin bisa kita gunakan untuk panduan di jalan raya. Selamat berkendara dengan baik dan sopan, jangan biarkan Pak Polisi menilang Anda ya :)



Thursday, August 12, 2010

Air Aki Habis (Malu2in)

Petugas AstraWorld akhirnya datang pada jam 1640 WIB. Seperti informasi dari petugas call-center Astra World, saya pikir yang datang berdua, ternyata dia seorang diri. Paras-nya seperti orag Arab. Bagi wanita, tampang dia dengan postur tinggi besar seperti itu termasuk ganteng. Dia pakai seragam warna biru muda. Saya sempat membaca di kedua lengannya tertulis 'AstraWorld'.

Dia membawa 1 tas berisi perkakas dan tatakan untuk menulis seperti kebanyakan orang bengkel profesional yang selalu harus melaporkan kejadian di lapangan. Dia juga membawa sebuah alat (yang saya pikir sebelumnya sebuah tas) berwarna kuning dengan semacam kabel berwarna merah melilit alat itu.

Setelah menyapa dan berkenalan diapun segera memeriksa accu (aki). Segera saya buka kap mesin dan menyerahkan kunci kontak mobil. Dia menempatkan alat itu (belakangan saya baru tahu namanya 'jumper') untuk menjepit kepala aki. Lalu dia menyalakan mobil dengan men-starter-nya. Dia mengajukan pertanyaan sederhana "tadi menyala seperti ini pak?" saya menjawab "LED-nya sama sekali mati pak". Dia mengangguk.

Kemudian dia bergegas memeriksa aki. Dia buka satu demi satu penutupnya. Belum sampai semua penutp dia buka, dia berkata "air aki-nya habis pak!"

Meski pura-pura bodoh dengan pertanyaan bodoh, saya menanyakan tentang perawatan aki. Di dalam hati saya baru ingat kalau air aki bisa habis :)) sudah lama tidak mengurus mobil jadi beginilah hasilnya (stupid!).

Dia berkata, "paling tidak air aki dicek setiap 3 bulan sekali pak!" Dengan gaya sok sibuk agar terlihat tidak teledor mengurus mobil, saya mencari bukti-bukti kuitansi bengkel terakhir.

Idih! Malu-malu'in!