Sejak masuknya tahun baru 2010, banyak hal yang telah terlewatkan untuk dibahas di blog ini. Perayaan tahun baru itu sendiri adalah salah satu yang mungkin perlu diperbincangkan. Meski di Bumi Nusantara politik "gonjang-ganjing" marak terjadi, dan meski istilah "gonjang-ganjing" ini juga tidak untuk mendeskriditkan salah satu pihak, tapi sayangnya kami memilih tidak membahasnya disini. Maklum ini bukan blog politik :)
Peristiwa bencana banjir telah melanda provinsi Riau pada hari Selasa, 05 Januari 2010. Semoga saat ini para korban bencana tetap tegar dan sabar menerima cobaan hidup ini. Peristiwa yang tak terlupakan adalah Gempa bumi berkekuatan 7 skala Richter yang mengguncang ibukota Haiti dan sekitarnya pada 12 Januari 2010 pukul 16.45 waktu setempat. Sangat tragis karena ternyata terjadi gempa susulan pada tanggal 20 Januari 2010 dengan kekuatan yang lebih kecil sebesar 6.1 skala Richter. Kami turut berduka saat itu dan berbela sungkawa atas korban dan keluarga yang ditinggalkan para korban. Hingga saat ini Haiti masih menjadi sorotan dunia.
Di awal bulan Januari, Indonesia juga dihebohkan oleh peristiwa bayi yang hilang dari Rumah Sakit. Hal ini menjadikan para orang tua harus lebih waspada sehubungan dengan keamanan dan keselamatan bayi yang baru lahir. Masih seputar bayi yang menjadi pusat perhatian, adalah Bilqis Anindya Passa (17 bulan) yang menderita kegagalan fungsi saluran empedu alias atresia bilier telah mendapatkan simpati melalui berbagai media termasuk aplikasi jejaring sosial facebook. Hingga tanggal 2 Februari 2010 lalu tercatat sumbangan sudah mendekati 1 milyar rupiah. Fenomena sosial tentang kepedulian terhadap sesama ini muncul juga saat kasus Prita vs. RS Omni International muncul di permukaan.
Kami menyempatkan memantau sebuah fenomena alam pada tanggal 15 Januari 2010. Sebuah gerhana matahari cincin terjadi di sebagian wilayah Afrika, Samudra Hindia, dan Asia selama 7-11 menit. Menurut para ahli, gerhana matahari ini adalah gerhana terlama sepanjang sejarah umat manusia.
Sedangkan berita tentang berpulangnya tokoh nasional Gus Dur dan Franz Seda menyisakan pelajaran hidup dan berkehidupan yang patut dicontoh oleh kita semua. Selamat jalan para pejuang kehidupan, semoga tauladanmu menjadi pengetahuan dan pelajaran bagi kami generasi muda.
Tuesday, February 9, 2010
Banyak Hal Penting Yang Terlewatkan
Thursday, October 1, 2009
4x4=16

Notes ini ditulis karena saya merasa senang, bahagia dan bangga dengan anak-anak jaman sekarang yang mau MENULIS, salah satu anak itu adalah keponakan-ipar saya yang bernama Bagas, meski sekedar membalas komentar saya via WALL-nya, rasanya hal tersebut tetap membanggakan.
------
Halo Bagas dan adik adik semua, terima kasih atas komentar dan balasan komentarnya melalui Social Media seperti Facebook ini. Silahkan balas komentar saya yang rajin-rajin yaaa, pasti saya akan balas kembali.
Dahulu kala saat saya masih sesusia kalian, hal yang paling sering saya lakukan adalah berkirim surat. Apalagi setelah terpaksa saya harus pergi meninggalkan tanah kelahiran saya yang sekaligus juga meninggalkan sahabat-sahabat saya di kota itu. Rasanya sedih sekali harus berpisah.
Dahulu tidak ada media komunikasi secanggih sekarang. Tapi rasa kangen dan ingin berkomunikasi dengan sahabat lama tiada terbendung, maka surat menyurat adalah cara berkomunikasi yang kami pakai kala itu. Kalo dicoba saat ini mungkin terasa KUNO ya? tapi patut diingat lho, bahwa tulisan tangan kita akan lebih bermakna dibandingkan huruf2 yang saya ketikkan saat ini. Mulai saat itu muncullah ungkapan "4x4=16, sempat tidak sempat harap dibalas". Apabila diingat saya jadi kangen ingin menulis surat seperti jaman dahulu lagi. Tapi apa daya, era informasi telah datang, rasanya menulis surat seperti dahulu kurang efektif untuk dilakukan lagi. Maklum yang mau dikirimin surat banyak banget rasanya. Bisa-bisa harus punya tukang pijat pribadi untuk memijat jari-jari tangan yang pegal2 karena harus menulis menggunakan PENA... :)
Baiklah Bagas dan adik adik sekalian, teruskan kegiatan menulismu.... 4x4=16 ya!
Wednesday, September 30, 2009
Bumi Andalas Oh Bumiku...

Di berbagai media ditampilkan potret suram bagian dari bumi Indonesia yang tertimpa bencana - Sumatera Barat. Di berbagai media sudah banyak komentar dan opini terkait bencana ataupun musibah yang menimpa saudara-saudara kita. Pak SBY-pun menggunakan istilah "tanggap darurat" dalam menyikapi kejadian ini. Setidaknya kita mengungkapkan rasa keprihatinan ini melalui saluran-saluran media yang dimiliki. Namun demikian ada benarnya bahwa keprihatinan dan bantuan yang diberikan tidak semata-mata karena trend sosial yang muncul di masyarakat, namun (semoga) hal tersebut datang dari sanubari kita yang terdalam, ikhlas.
Keprihatinan dapat ditunjukkan dalam banyak hal, memberikan bantuan moril & fisik di lapangan & memberikan bantuan dana melalui berbagai saluran keuangan kepada korban bencana. Namun manakala kita belum sanggup melakukan dua hal tersebut, ada hal yang urgent yang rasanya sepele dan sering menjadi wejangan para sesepuh kita: bersikap sopan kepada sesama, saling bantu dan hormat menghormati. Sikap prihatin dapat ditunjukkan di lingkungan terdekat kita sekalipun seperti: konsisten disiplin dalam hal kebersihan dan kesehatan, hemat sumber daya air dan listrik, selalu peduli dengan aspek-aspek K3, dan sebagainya. Dan yang terpenting adalah sebuah pertanyaan yang perlu kita jawab: apakah kita sudah pernah memberikan sesuatu kepada sesama dan bangsa ini?
Melalui blog ini, atas musibah gempa di Sumatra Barat dan dampaknya, saya turut berdo'a, semoga sanak saudara, kerabat dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan tawaqal. Bagi korban gempa yang membutuhkan perawatan, semoga segera pulih kembali baik fisik dan mentalnya.
Badai pasti berlalu, semoga bumi Andalas bersinar kembali.
Subscribe to:
Comments (Atom)